Bertahan Sedikit Lebih Lama

15 Desember 2030. Ku coret kalenderku tanda satu hari lagi berhasil kulalui. Hari ini hari yang panjang, 12 jam di Klinik menguras tiga perempat energiku. Ku ambil handukku dan mulai membersihkan diri. Semoga mandi air panas dapat melepas penat seharian ini. Sore ini, ada gadis yang baru beranjak remaja memasukki ruanganku. Dengan matanya yang sembab karena mungkin sempat beradu-mulut dengan resepsionis didepan, perihal wali palsu yang ternyata bukan orangtuanya yang Ia bawa, melainkan supirnya. Hatiku benar-benar mencelos melihat Ia dengan leher dipenuhi lebam.

“Raia, kakak boleh tanya lehermu kenapa, cantik?” tanyaku selembut mungkin.

“Papa, kak. Tadi, aku pulangnya ke-telat-an padahal ada kolega Papa yang mau datang. Aku padahal sudah minta maaf, tapi kenapa ya kak? Kayaknya dunia benci banget sama aku”, jawabnya dengan bulir air mata yang sudah memenuhi lengannya. 

Ku buka mataku setelah mengingat kejadian di Klinik tadi, perasaan ini masih ada. Namun bedanya, saat di Klinik aku harus berusaha seprofesional mungkin untuk mencurahkan seluruh emosiku untuk pasien. Tapi kini, perasaan itu kembali menyeruak. Ada untaian jelek yang memenuhi kepalaku. Rasanya panas, berat, warnanya hitam, dan mulai menyebar ke seluruh tubuhku. Walaupun kini aku sudah menjadi psikolog, kembalinya perasaan itu masih bukan menjadi hal yang mustahil.

Setelah mengeringkan rambutku, aku duduk sejenak. Otakku mulai memutar film yang paling kubenci. Dapur apartemenku kini menampilkan Ava kecil dan cacian yang tak henti-hentinya dilontarkan seorang pria yang jelasnya adalah papa kami. Dan pintu kamarku berubah menjadi pintu putih yang menjadi sasaran sang pria untuk melempar paksa putrinya masuk kamar (katanya sih, untukku merenungi kesalahanku—tanpa ku ketahui apa kesalahanku). Tidak, aku tidak bisa berlarut begini. Ku tarik nafasku, tahan beberapa detik, dan hembuskan perlahan. Membiarkan untaian jelek yang memupuk keluar perlahan dari tubuhku. Nggak apa-apa Ava, you really did a good job.

Pikiran gila memenuhi kepalaku. Nggak, nggak boleh. Aku jelas belum siap. Ucapku dalam hati berkali-kali. Tapi entah mengapa, tanganku dan hatiku beradu malam ini. Tanganku mengobrak-abrik tumpukkan kardus yang sengaja ku taruh paling bawah dengan tujuan sulit ku buka. Buku bersampul coklat kini melekat di tanganku. Ku tatap nanar buku itu, aku terkekeh. Dulu, sampul coklat menjadi pilihanku karena jika orangtuaku bertanya, jawabanku pasti “buku tulis matematika”. Tetapi, Ava yang dulu benar-benar tidak tahan dengan stiker-stiker gemas yang pada akhirnya ia tempel diatas buku tersebut, yang tentunya, mengundang orangtuanya untuk membacanya, yang artinya pada malam itu, yang kuingat sih hari Rabu sebelum latihan Ujian Sekolah kelas 12 jam 8 malam, bentakan dan cacian kembali memenuhi malamku.

Kubuka halaman pertama, “Ravannya Asterie’s journal” dengan pulpen glitter dan lagi-lagi stiker pita dan kawan-kawannya memenuhi halaman pertama. Halaman kedua, mari kita mulai perjalanan ini

...

5 Januari 2012

#catatansatu — journal baru yay!

Hari ini, aku punya teman baru. Namanya Vania. Nama kita mirip lho! Aku Ravannya dia Vania aja. Dia baik, dia punya mainan banyak. Oh iya tadi mamanya masak mashed potato sama aku nggak tau sih itu apa lagi, tapi enak! Mamanya baik, mamanya cerewet tapi asik! Nggak kayak bunda. Kenapa ya mama kita beda? Ayahnya juga baik banget! Ayahnya suka meluk Vanya dan nggak teriak kalau Vanya numpahin air ke meja makan. Aku mau jadi adik Vanya. Soalnya kata Vanya dia pingin punya adik. Kurasa semua orang didunia ini mau jadi adiknya Vanya. Tapi pasti nggakaada yang mau jadi adik aku. Bunda Papa nggak kaya mama ayah Vania soalnya. Tapi nggakpapa, kata Bu Lia semua orangtua sayang anaknya, jadi aku juga sayang ayah bunda. Oh iya tadi kita menggambar. Kata Mama vania gambarku bagus loh! Bunda nggak pernah bilang gambarku bagus. Abang Rei pasti bilang ini kayak sampah, dan akuberujung dimarahi Papa karena katanya sih, menggambar itu buang-buang waktu.

Udah ya, segitu aja. Bunda kayaknya bakal teriak-teriak lagi kalau tahu aku belum tidur jam segini. Kalau Bunda teriak, pasti Ayah ikut teriak. Aku nggak suka, kupingku sakit. Dadah! Besok aku cerita lagi. ☺

...

Tanpa sadar, bulir air mata jatuh ke kertas yang sudah menguning tersebut. Dilihat dari tanggal dan tulisan tangan yang tak sinkron ukuran dan bentuknya, aku masih berumur 5 tahun pada saat itu. Aku lupa bagaimana dan apa, aku juga sudah tidak berkabar lagi dengan Vania. Tetapi satu hal yang membekas adalah bagiamana hangatnya rumah Vania saat itu. Dan gejolak panas cemburu hatiku yang berapi-api. Ava kecil benar-benar menahan tangisnya dan ikut tertawa dengan candaan yang dilontarkan Papa Vania pada saat itu. Catatan lagi, usiaku masih 5 tahun pada saat itu. Ku buka halaman selanjutnya secara acak. Selain karena buku ini tebal, aku juga sudah lelah melihat tulisanku sendiri. Aku terkekeh sendiri, mungkin itu yang dipikirkan pasienku sekarang. 

...

13 April 2021

#catatanlimapuluhtiga

Udah lama banget aku nggak nulis-nulis lagi. hidupku gitu-gitu ajasih sebenernya. Sarapan, sekolah, les mata pelajaran, les piano, tugas, tidur lagi. Hari ini bener bener sunyi. Bunda ke Malaysia sama Papa. Abang Rei entah kelayapan kemana. Abang Rei aneh. Dia nggak pernah les, dia nggak pernah 100 ujiannya, tapi boleh seenaknya main keluar. Dan nggak ada yang komplen. Kalau aku sih pasti udah di kurung dikamar kalau aku ketahuan tidur di kelas. Tapi nggak papa, ini semua demi kebaikanku, katanya. Mia nggak masuk hari ini. Aku jadi makan sendiri dikelas. Terus Cello dia gangguin aku terus!!! Aku udah marahin tapi dia malah cengengesan. Cello itu nyebelin.

15 Mei 2021

#catatanenampuluhdua—Birthday, Wishes, Olim, etc.

Hari ini aku ulangtahun yang ke 12. Yaaay! Eh, aku nggak tahu deh yay apa nggak. Soalnya, semakin gede aku, les ku semakin banyak ☹ Aku nggak suka. Tapi Papa suka aku les banyak-banyak, mungkin dia nggak suka aku di rumah. Ms Vera jadi orang pertama yang ngucapin aku ulangtahun! Ms Vera juga ngajakin aku olimpiade matematika bulan depan. Takut sih, tapi kayaknya aku bisa. Habis itu Mia tadi berisikk bangeet ngucapinnya. Pake peluk-peluk segala. Kakak kelas sampai nengok dan jadi ngucapin. Aku seneng bangeet. I feel loved today. Tadi Ms Vera juga nanya harapanku apa. She asked about my birthday wishes, yang tadi aku diem aja soalnya nggaktahu. But actually, If it is not too much to ask, I just want to feel like this everyday, loved. Tapi kalau nggakbisa, semoga hari-hari kedepannya berjalan mulus. 

20 Agustus 2021

#catatandelapanpuluhsembilan

Hari ini aku pergi sama keluargaku karena Abang Rei ulangtahun. Ulangtahunku kemarin nggak ada yang ngucapin, apalagi di rayain. Tapi nggak apa-apa, yang penting aku akhirnya diajak. Untuk pertama kalinya, Bunda bilang dia bangga kepadaku. Aku juara 1 lomba  kemarin. Bunda sekarang ngajakin aku lomba di tingkat yang lebih tinggi. Sebenernya aku capek banget. Karena lesku yang makin banyak tapi aku harus ikut lomba juga. Tapi selama Bunda seneng, aku pasti bisa.


1 Januari 2022

#catatanseratustiga

Demi Tuhan, aku capek banget. Aku selalu pulang jam setengah sembilan sekarang. Itu belum terhitung mengerjakan segudang latihan soal tambahan dan jadwal olimpiade lainnya. Awalnya, semuanya seru. Tapi aku jadi merasa semua hal yang aku kerjain harus sempurna. Aku tadi di Sekolah ke UKS karena perutku mual tiba-tiba, dan nafasku nggak beraturan. Aku nggaktahu aku kenapa belakangan ini. Temen-temenku besok mau pergi ke mall yang baru buka, tapi pastinya aku nggak bisa ikut. Aku harus ngerjain banyak hal. Bunda sama Papa juga pasti nggak setuju. Atau bahkan mereka bakalan marah habis-habisan lagi. 

5 Januari 2022

#catatanseratusempat

Aku nggak dapet juara apa apa kemarin. Awalnya nggak ada yang terjadi hari ini. Aku, Cello, Mia, sama Aidan pergi ke cafe dekat sekolah. Ini pertama kalinya aku keluar sama temen-temen, biasanya aku les terus. Tapi sesekali harusnya boleh kan? Kata Mia dia takut aku gila sama lesku yang semakin nggak beraturan, benar juga sih. Cello lucu banget, Mia dan aku nggak berhentinya ketawa. Sedangkan Aidan sibuk makan dan ngajak berantem Aidan(bercanda sih, soalnya kalo beneran Cello bisa remuk sama badan Aidan yang tinggiiii banget) yang nggak kapok-kapok gangguin dia. Kita disana sampai sore, aku lupa ada les mandarin hari ini. Lao shi ku bingung dan akhirnya dia chat Papa. Papa bener-bener marah besar. Dia lempar aku ke kamar, sikut kananku kena ujung laci. Habis itu papa bilang sesuatu panjang lebar tentang “kecewa”, “nggak tahu diri”, dan “anak nggak guna”. Yang nggak aku dengar sepenuhnya karena nafasku nggak teratur lagi, gejolak di perutku juga semakin nggak enak. Habis itu mataku menghitam sepenuhnya. Kayaknya aku pingsan. 

...

Aku menutup buku tebal itu perlahan. Dengan nafas teratur, aku tidak merasa diriku nggak berguna lagi. Eh? Itu sebuah pencapaian, ‘kan? Buru-buru ku ambil pulpen di atas nakas. Dengan perasaan tenang aku mulai kembali menulis, Ravannya kecil pasti akan bangga.

15 Desember 2030

#catanenamratusduabelas—We survived.

Hari ini, aku sudah berumur 21 tahun. Aku terakhir nulis di buku ini umur 16 kan sejak kejadian itu? Aku masih aku yang dulu. Aku masih Ravannya yang banyak mengeluh dan main sama Mia walaupun itupun dua bulan sekali. Aku sekarang sudah jadi psikolog, aku dan klinikku sudah bisa menyelamatkan orang dari apa yang dulu aku nggak tahu. Aku sekarang bukan Ravannya yang diam jika dipaksa ataupun dituntut. Aku juga sekarang sudah tau kalau sesak nafas dan perutku yang aneh itu bukan hal yang biasa, bukan juga asthma. Kamu nggak salah kok waktu cari list di keluarga siapa yang punya penyakit asthma, yang rupanya nggak ada. Tapi kamu salah, dulu emang organ kita nggak sakit. Fisik kita nggak sakit, tapi sesuatu yang lebih penting dan nggak kelihatan itu yang sakit. Dulu kita nggak tahu kan ya kalau itu juga bisa sakit? Dan lagi untuk kamu Ravannya yang dulu, kamu nggak harus selalu jadi sempurna. Mungkin dulu kamu bilang gagal nggak akan pernah ada di kamusmu. Tapi, sebenarnya nggak apa-apa untuk gagal kita selalu bisa bangkit, kan? Buktinya sekarang kamu tinggal di apartemen yang dulu kamu cuma bisa ngehayal tinggal disitu. Dan juga, dulu Papa bilang nangis iitu untuk orang lemah aja. Tapi, orang dewasa itu bisa salah. Kamu nggak selalu harus nurut sama mereka. Nggak apa-apa untuk nangis. You’ve been going through a lot, a little cry and failure wont make you become worthless. Just let it all out. Ravannya, you deserve a lot better. Terima kasih sudah bertahan dan nggak menyerah. Terus jadi Ravannya yang bangun tiap paginya hanya untuk mencoret kalender ya. 

15 Desember 2030, Aku berdamai dengan masa laluku. Untuk gadis kecil yang tadi datang ke klinikku, terima kasih banyak, ya. Tolong bertahan sedikit lagi, entah demi mie rebus kesukaanmu di Sabtu sore, atau pergi ke salon kuku bersama temanmu untuk membuatmu merasa cantik, atau dengan memberikan manfaat kepada orang lain tanpa kamu sadari. Seperti yang baru kamu lakukan kepadaku hari ini. Hang in there, a little bit longer. 



Karya : Aisha Hasna Ramadhani


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku, Kamu, dan Bandung

Ingin Cantik

Sahabat Terbaik